
Wahai sobat…, sudahkah kita mengucapkan syukur pada hari ini..??. Betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita, namun terkadang kita sering lupa walau sekedar mengucapkan hamdalah.
Innahamdalillah… wassyukurillah, wani’matillah… walaa haula walaa quwwata illa billah. Shadaqo wa’dah… wanashara ‘abdah… wa’azzajundah… wahazamal ahzaa bawa’dah.
Sobat, ada begitu banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita…, bila kita tulis satu persatu maka takkan cukup untuk menulis semuanya. Dimulai dari diri kita hingga negeri ini yang diwariskan kepada kita. Negeri ini begitu kaya akan limpahan sumber daya alamnya, maka tak heran bila orang-orang diluar sana mengatakan negeri ini separuh dari surga.
Namun sayang, limpahan kekayaan alam ini tidak diimbangi dengan Sumber Daya Manusia yang memiliki integritas yang tinggi. Kita lebih mengenal bahwa negeri ini termasuk negeri yang SDM pengelola negaranya terkorup didunia. Jadi, walaupun negeri ini memiliki kekayaan yang berlimpah tetap saja didalamnya angka kemiskinan begitu tinggi, tidak bisa disejajarkan dengan negara-negara berkembang, apalagi negara maju. Walau negeri ini berlimpah kekayaan, tetap saja belum sampai pada titik negara yang tangguh.
Lalu bagaimana agar negeri kita ini yang konon kolamnya kolam susu, tongkat dan batunyapun jadi tanaman juga memiliki SDM yang tangguh?, bagaimana kesatupaduan antara SDA dan SDMnya menjadikan negeri ini negeri yang tangguh?. Ada baiknya mungkin kita renungkan apa yang disampaikan oleh salah seorang super trainer kita, yaitu ust. Reza Syarif tentang bagaimana membangun negara yang tangguh itu…
Sebuah negara yang tangguh dapat di ukur dari potensi SDM yang dimiliki . Dalam sebuah statistik badan Internasional disebutkan bahwa negara Jepang memiliki potensi SDM diurutan kedua di dunia. Indonesia ada di urutan 104. Namun beberapa tahun terakhir Indonesia menduduki peringkat 109. Jumlah angka naik namun turun dalam posisi. Terlihat jelas bahwa SDM kita sangatlah rendah.
Untuk menjadi negara yang tangguh haruslah diawali dari potensi SDM. Apa sajakah komponen yang dibutuhkan untuk menjadi sebuah negara yang tangguh ?
Rasulullah SAW mengisyaratkan hal ini saat beliau menggunting kukunya.. Adalah sunah Rasul SAW untuk menggunting kuku. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bila menggunting kuku tidaklah berawal dari ibu jari ataupun kelingking tetapi Rasulullah SAW selalu mulai menggunting dari jari telunjuknya lalu jari tengah, jari manis, jari kelingking dan yang terakhir adalah ibu jari atau jempol. Ternyata Rasulullah SAW melakukan hal yang demikian bukanlah tanpa makna..
Pertama adalah jari telunjuk. Mengapa Rasulullah memulai dari telunjuk? Seperti yang kita pahami bersama bahwa jari telunjuk adalah simbol Amir, kepemimpinan. Untuk membentuk negara yang unggul maka pertama kali yang harus dimiliki adalah seorang pemimpin. Pemimpin yang bagaimanakah? Yaitu pemimpin yang adil. Adil, sebagaimana diartikan oleh Abu Bakar As Siddiq ketika beliau diangkat menjadi khalifah yang pertama. Beliau berkata di depan khalayak, Orang-orang yang lemah akan menjadi kuat di sisiku dan orang-orang yang kuat akan menjadi lemah di hadapanku. Artinya, bahwa orang-orang yang lemah akan dibela dan dipenuhi haknya oleh sang khalifah dan orang-orang yang kuat akan menjadi lemah dihadapan khalifah sehingga orang-orang yang kuat tidak dapat mendzalimi yang lemah. Hal ini disesuaikan dengan proposinya. Dan bukanlah prinsip sama rata dan sama rasa karena setiap manusia memiliki proporsi kedudukannya masing-masing. Inilah pemimpin yang adil.
Kedua adalah jari tengah. Jari tengah terletak di tengah-tengah, seimbang. Dan di setiap jari manusia ia selalu lebih tinggi dibanding jari yang lain. Siapakah yang berkedudukan sebagai jari tengah? Merekalah para ulama. Ulama adalah pewaris para nabi. Ulama lebih tinggi kedudukannya dibanding pemimpin. Tidak sembarang ulama tentunya. Ulama yang luas wawasannya, dalam ilmu agamanya dan tidak tergiur akan dunia. Inilah ulama yang sesungguhnya. Para ulama yang mengenggam dunia di tangannya namun tidak meletakkan dunia itu di hatinya. Zuhud dan Wara. Inilah ulama.
Ketiga adalah jari manis. Pada jari manislah cincin pernikahan biasanya dipasang. Jari manis selalu dinanti setiap insan. Siapakah jari manis ini? Mereka adalah para pemuda, syabab. Pemuda yang mengokohkan pilar-pilar negara, bukan sembarang pemuda tetapi pemuda yang KADER (Kreatif, Aktif, Dinamis, Efisien dan Revolusioner). Kreatif, seorang pemuda haruslah kreatif sehingga dapat menciptakan sesuatu yang baru untuk dapat selamat dari perkembangan zaman. Aktif, seorang pemuda harus berperan aktif dalam setiap aspek kehidupan. Dinamis, pemuda hendaknya dinamis karena kehidupan akan selalu berputar terkadang di atas dan terkadang di bawah. Ia harus selalu siap menghadapi kegagalan dan kesuksesan dalam hidup. Efisien, seorang pemuda harus dapat melakukan sesuatu yang sedikit namun menggapai keberhasilan yang sebesar-besarnya. Revolusioner, seorang pemuda harus menjadi seorang revolusioner yang siap untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Bila lingkungannya buruk maka ia harus dapat mengubah lingkungannya menjadi baik. Pemuda Islam.
Keempat adalah jari kelingking. Jari kelingking adalah simbol untuk yang lemah yang selalu direndahkan, namun tanpa jari kelingking, empat jari lainnya tidak akan berfungsi dengan baik. Siapakah jari kelingking itu? Mereka adalah wanita sholehah. Para ibu atau Ummahat. Ciri-ciri wanita yang sholehah adalah (sebagaimana yang disabdakan sang Rasul SAW) bahwa bila kita menatap wajahnya akan mengingatkan kita kepada Allah. Dan bila ia berbicara akan menumbuhkan kesejukan dan menentramkan hati, membuat kita selalu dekat dan ingat kepada ALLAH. Wanita adalah tiang negara.
Kelima adalah Jempol. Jempol adalah simbol Ummat. Bila pemimpin baik, ulama baik, pemuda baik, wanita baik maka ummat akan baik. Bila keempat komponen tersebut baik maka kita akan dapat mengacungkan jempol, namun bila keempat komponen buruk maka jempol yang menghadap ke atas akan berbalik ke bawah. Allah berfirman kepada kaum Muslimin dalam surat Ali Imran ayat 110 : ” Kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.” Islam di janjikan oleh Allah Tuhan Semesta Alam untuk di menangkan-Nya atas seluruh ummat. Allah pun berfirman : “Jika sekiranya suatu penduduk negeri beriman dan bertaqwa kepada ALLAH tentulah akan kami berikan keberkahan dari langit dan dari bumi”. Ummat harus beriman terlebih dahulu kepada ALLAH agar mendapatkan berkah yang telah ALLAH janjikan.
Kelima hal diatas adalah tiang penyangga dan sebuah rumah tidaklah sempurna bila tanpa atap. Bila kita mempunyai rumah tentu harus memilki atap karena jika tidak, kita akan kepanasan dan kehujanan. Apakah atap itu?. Ada dua atap yang dibutuhkan. Atap itu adalah..dakwah dan jihad. Dakwah digunakan untuk menyampaikan Islam, memberi pemahaman kepada ummat, menyeru kepada yang ma’ruf mencegah dari yang munkar. Tidaklah akan tegak sebuah negara Islam bila pemahaman ummat belum disentuh dengan dakwah. Dan saat menyampaikan Islam itu pastilah akan menghadapi aral melintang dan kedzaliman. Untuk itulah kita membutuhkan Jihad. Jihad adalah perjuangan dengan seluruh kemampuan yang kita miliki, harta, skill, dan jiwa untuk menggapai keridhoan Allah. Jihad dengan seluruh kemampuan. Seorang wartawan berjihadlah dengan menyampaikan berita-berita kaum Muslimin di seluruh dunia, menghadang serangan pemikiran Barat (Ghazwul Fikri). Seorang dokter berjihadlah dengan mengobati kaum Muslimin yang sakit atau terluka. Seorang guru berjihadlah dengan mengajarkan ilmu yang di miliki. Seorang ilmuwan berjihadlah dengan mengungkapkan kebenaran Al Qur’an melalui science, dan sebagainya. Kita semua mampu untuk berjihad.
Dengan Amiir yang adil, ulama yang zuhud, pemuda yang KADER, ummahat yang sholehah dan ummat terbaik maka Insya ALLAH Islam akan dimenangkan-Nya sebagai janji dari Tuhan Semesta Alam.
Shalawat yang sempurna dan salam yang amat mulia senantiasa tercurah keharibaan junjungan Nabi Muhammad SAW. Yaa… Allah saksikanlah…. kami benar-benar mencintai beliau… temukanlah kami dengannya ditelaga kautsar kelak…. Amin….
Yang penting adalah siapa dirimu, berjuanglah dan kau akan menjadi seseorang.